Sunday, October 26, 2014

LOGIKA

Pengertian Logika

Mungkin kamu pernah mendengar orang mengatakan, “Pikiranmu tidak logis.” Atau temanmu mengatakan kepadamu, “Kata-katamu tidak logis.” Apa maksud ungkapan semacam ini? Apakah tidak logis sama artinya dengan tidak masuk akal? Apa yang dimaksud dengan tidak logis? Apa artinya tidak masuk akal? Lalu, kapan sebuah bisa dikatakan logis dan masuk akal?
“Logika” berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu. Kamu tentu sudah banyak kali mendengar kata logos. Misalnya, ketika mempelajari biologi, kamu tahu kalau biologi adalah ilmu (logos) tentang makhluk hidup (bios). Atau sosiologi yakni ilmu tentang masyarakat (socius), atau zoologi, yakni ilmu tentang binatang, atau psikologi, yakni ilmu tentang jiwa (psikhe) manusia. Bahkan ilmu tentang Tuhan (teologi). Demikianlah, logos dalam pengertian ilmu atau kajian memiliki hubungan yang erat dengan salah satu aspek kajian yang menjadi objek formal dari ilmu bersangkutan sekaligus membedakan ilmu tersebut dari ilmu-ilmu lainnya.
Secara leksikal, Oxford Dictionary mendefinisikan logika sebagai “science of reasoning, proof, thinking, or inference; particular scheme of or treatise on this; chain of reasoning, correct or incorrect use of argument, ability in argument, arguments.” Meriam Webster’s Desk Dictionary menjelaskan bahwa logika adalah “a science that deals with the rules and tests of sound thinking and proof by reasoning.” Kamus Oxford juga menyebutkan bahwa aslinya istilah lengkap untuk logika adalah logike tekhne, yang artinya seni atau keterampilan berpikir.
Apa yang dapat disimpulkan dari pengertian ini? Pengertian etimologis maupun leksikal mengenai logika sebagaimana dikemukakan di atas menegaskan dua hal sekaligus yang menjadi inti pengertian logika. Pertama, logika sebagai ilmu; logika adalah elemen dasar setiap ilmu pengetahuan. Kedua, logika sebagai seni atau ketrampilan, yakni seni atau asas-asas pemikiran yang tepat, lurus, dan semestinya. Sebagai ketrampilan, logika adalah seni dan kecakapan menerapkan hukum-hukum atau asas-asas pemikiran itu agar bernalar dengan tepat, teliti, dan teratur.
Uraian di atas sekaligus menggarisbawahi bahwa logika menempatkan penalaran sebagai pokok pembicaraan. Apakah suatu pemikiran tepat, teratur, atau lurus? Logika tidak mempersalahkan siapa atau dalam keadaan apa pembuat penalaran itu berada. Apakah pembuat penalaran itu waras atau tidak, bukan perhatian logika. Logika juga tidak bermaksud mempelajari sistem interaksi sosial di mana si pembuat penalaran itu berada. Bidang perhatian dan tugas logika adalah menyelidiki penalaran yang tepat, lurus, dan semestinya sehingga dapat dibedakan dari penalaran yang tidak tepat.
Penalaran (bentuk pemikiran) berkaitan sangat erat dengan aktivitas akal budi manusia “berpikir”. Berpikir itu sendiri adalah bagian dari kehidupan manusia. Semua orang sudah melakukannya. Dengan berpikir, kita mampu berdialog, menulis, mengkaji suatu uraian, mendengarkan penjelasan-penjelasan, dan mencoba menarik kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Tetapi berpikir yang sering dirasa bersifat spontan itu bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang mudah, gampang, dan biasa-biasa. Namun apabila diselidiki lebih lanjut, terutama bila dipraktekkan sungguh-sungguh, ternyata bahwa berpikir dengan teliti, tepat, dan teratur merupakan kegiatan yang cukup sukar. Manakala kita meneliti dengan saksama dan sistematis berbagai penalaran, mungkin saja akan kita temui banyak kejanggalan, kekeliruan, dan penalaran yang tidak “nyambung”. Hal itu disebabkan antara lain karena dalam berpikir orang mudah tertangkap dalam perasaan-perasaannya, menganggap benar apa yang disukainya, terpengaruh prasangka, kebiasaan, dan pendapat umum. Dalam keadaan yang demikian, kita sulit mengajukan alasan yang tepat atau menunjukkan mengapa suatu pendapat tidak dapat diterima. Karena itu dalam kegiatan berpikir, kita dituntut untuk sungguh-sungguh melakukan pengamatan yang kuat dan cermat supaya sanggup melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan; dan kesalahan-kesalahan yang terselubung.
Logika adalah ilmu dan keterampilan. Itu berarti memiliki pengetahuan yang cukup tentang logika sebagai ilmu tidak dengan sendirinya menjamin bahwa seseorang dapat bernalar dengan teliti, tepat dan teratur. Ketrampilan menalar dengan tepat adalah kecakapan yang diperoleh dari latihan yang terus-menerus sehingga tercipta suatu kebiasaan yang mantap pada akal budi kita untuk berpikir sesuai dengan hukum-hukum atau prinsip-prinsip pemikiran.
Sejarah Logika
Logika muncul bersama dengan filsafat. Itu tidak berarti logika berdiri sendiri sebagai satu disiplin di samping filsafat melainkan bahwa dalam filsafat Barat – sudah nyata pemikiran yang logis. Untuk menetapkan dengan pasti kapan “hari lahir” logika tidak mungkin. Umumnya diterima bahwa orang pertama yang melakukan pemikiran sistematis tentang logika adalah filsuf besar Yunani Aristoteles (384-322 M). menarik, karena Aristoteles sendiri tidak menggunakan istilah “logika”. Apa yang sekarang kita kenal sebagai logika, oleh Aristoteles dinamakan “Analitika” – penyelidikan terhadap argumentasi-argumentasi yang bertitik-tolak dari putusan-putusan yang benar – dan “Dialektika” – penyelidikan terhadap argumentasi-argumentasi yang bertitik-tolak dari putusan-putusan yang masih diragukan.
“Logika’ bagi Aristoteles dan para pengikutnya tidak dikategorikan sebagai satu ilmu di antara ilmu-ilmu yang lain. Menurut Aristoteles “logika” adalah persiapan yang mendahului ilmu-ilmu. Atau dapat dikatakan bahwa “logika” adalah alat (organon) untuk mempraktikkan ilmu pengetahuan.
Orang pertama yang menggunakan istilah “logika” adalah Cicero (abad pertama  sebelum Masehi) tetapi dalam pengertian “seni berdebat’. Di kemudian hari, yakni pada permulaan abad ketiga masehi, Alexander Aphrodisias menggunakan istilah “logika” dengan arti yang dikenal sekarang. Sampai berabad-abad lamanya pembicaraan mengenai logika tidak mengalami perkembangan melainkan masih tetap sama seperti pada waktu Aristoteles. Immanuel Kant (Abad XVIII) mengatakan logika tidak mengalami perkembangan. Akan tetapi pada pertengahan abad XIX logika mengalami perkembangan karena ada usaha dari beberapa tokoh yang mencoba menerapkan matematika ke dalam logika. Gejala itu kini dikenal sebagai saat munculnya logika modern. Sejak saat itu logika dibedakan menjadi logika tradisional/klasik dan logika modern yang lazim dikenal sebagai logika matematika/simbolik.
Logika tradisional/klasik adalah sistem ciptaan Aristoteles yang berfungsi untuk menganalisa bahasa. Sedangkan logika modern berusaha menerapkan prinsip-prinsip matematik terhadap logika tradisional dengan menggunakan lambang-lambang non-bahasa. Dengan demikian keduanya berkaitan erat satu dengan yang lain. Oleh karena itu memahami kedua macam logika dengan baik merupakan bantuan yang sangat besar dalam berpikir yang teratur, tepat, dan teliti.
Logika modern dirintis oleh orang-orang Inggris, antara lain A. de Morgan(1806 – 1871), George Boole (1815-1864), dan mencapai puncaknya dengan karya besar A. N. Whitehead dan Bertrand Russel “Principia Mathematica”.
Manfaat Logika
Secara singkat manfaat logika dapat dikategorikan sebagai berikut:
  1. Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan (bahkan seluruh lapangan kehidupan).
  2. Logika menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual.
  3. Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu kita peroleh berdasarkan autoritas, emosi, dan prasangka.
  4. Logika – di masa yang sekarang dikenal sebagai “era of reason’”– membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu memberakan yang benar dari yang palsu.
  5. Logika membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan teratur karena dengan berpikir demikian ia dapat memperoleh kebenaran dan menghindari kesehatan.
Macam-macam Logika
Logika dapat dibedakan atas dua macam. Meskipun demikian keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua macam logika itu ialah logika kodratiah dan logika ilmiah.
Logika kodratiah ada pada setiap manusia karena kodratnya seabgai makhluk rasional. Sejauh manusia itu memiliki rasio maka dia dapat berpikir. Atau dengan akal budi manusia dapat bekerja menurut hukum-hukum logika entah secara spontan atau disengaja. Misalnya manusia dapat berpikir secara spontan bahwa si A berada dengan si B atau “makan” tidak sama dengan “tidur”. Jadi tanpa belajar logika ilmiah pun orang dapat berpikir logis dengan mendasarkan pikirannya pada akal sehat saja. Contoh yang lain misalnya, seorang pedagang tidak perlu belajar logika ilmiah untuk maju di bidangnya. Namun apabila hal yang dipikirkan itu bersifat rumit dan kompleks akal sehat saja tidak mencukupi untuk menjamin prosedur pemikiran yang tepat sebab akal sehat saja tidak dapat diuji sepenuhnya secara kritis dan ilmiah. Di sinilah kita ditantang untuk berpikir tentang caranya kita berpikir. Bagaimana kita mengetahui hukum-hukum kodrat pemikiran secara tegas dan eksplisit, agar kita dengan sadar menerapkannya sehingga kita mempunyai kepastian akan kebenaran proses berpikir dan juga kepastian atas kesimpulannya. Tuntutan itu lebih terasa apabila kita harus menggeluti jalan ilmu pengetahun yang  panjang, berliku-liku, dan penuh kesukaran. Pada tataran ini kita membutuhkan logika ilmiah sebagai penyempurnaan atas logika kodratiah. Jadi logika ilmiah : ilmu praktis normatif yang mempelajari hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan bentuk-bentuk pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing kita mencapai kesimpulan-kesimpulan yang lurus/sah. Logika ilmiah membentangkan metode yang menjamin kita bernalar secara tepat/semestinya. Bagaimana menghindari kekeliruan dan kesesatan dalam berpikir? Namun harus disadari bahwa logika ilmiah adalah keterangan lebih lanjut atau penyempurnaan atas logika kodratiah.
Logika Formal dan Logika Material
Ada perbedaan antara kebenaran bentuk dan kebenaran isi. Logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk disebut logika bentuk/formal (formal logic) sedangkan logika yang membahas tentang kebenaran isi disebut logika material (material logic). Selanjutnya logika formal disebut juga logika minor dan logika material disebut logika mayor.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan. Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
Misalnya:
Semua pegawai negeri adalah penerima gaji.
Semua pegawai swasta adalah penerima gaji.
Jadi, pegawai negeri adalah pegawai swasta.
Contoh diatas memperlihatkan susunan penalaran yang tidak tepat dengan demikian penalaran tersebut tidak memiliki kebenaran bentuk. Susunan penalaran yang tepat diketahui berdasarkan konklusinya yang ditarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya.
Misalnya:
Semua manusia adalah mortal.
Semua raja adalah manusia.
Jadi, semua raja adalah mortal.
Susunan penalaran diatas adalah tepat sebab konklusinya diturunkan secara logis dari titik pangkalnya. Dengan demikian kalau penalaran yang tepat itu dikosongkan dari isinya dengan menghapus pengertian-pengertian di dalamnya dan menggantinya dengan tanda-tanda huruf terdapatlah pola penyusunan sebagai berikut:
Semua M adalah P.
Semua S adalah M.
Jadi, semua S adalah P.
Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Semua penalaran, apa pun isi atau maknanya, asal bentuknya tepat, dapat dipastikan bahwa penalaran itu sahih. Jadi tanda-tanda M, P, dan S dapat diganti degan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu tepat/sahih.
Misalnya:
Malaikat itu benda fisik.
Batu itu malaikat.
Maka, batu itu benda fisik.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pernyataan yang membentuk argumen di atas adalah salah. Namun argumen tersebut sahih dari segi bentuknya karena kesimpulan sungguh ditarik dari premis atau titik pangkal yang menjadi dasar penyimpulan tersebut. Bahwa isi dari kesimpulan tersebut salah tidaklah disebabkan karena proses penarikan kesimpulan yang tidak tepat, melainkan isi dari premis-premisnya sudah salah.
Supaya kita dapat membedakan dengan baik kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi maka baiklah sekarang kita menyoroti argumen yang benar dari segi isi.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Misalnya:
Semua binatang adalah makhluk hidup.
Kucing adalah makhluk hidup.
Jadi, kucing adalah binatang.
Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pertanyaan yang membentuk argumen di atas adalah benar (sesuai dengan kenyataan) dengan demikian argumen tersebut memiliki kebenaran isi. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, argumen tersebut sesungguhnya secara formal (menurut bentuknya) tidaklah sahih (valid). Karena konklusi yang ditarik tidak diturunkan dari pernyataan-pertanyaan yang menjadi titik pangkal pemikiran. Memang benar bahwa “Kucing adalah binatang” tetapi pernyataan (kesimpulan) itu tidak dapat ditarik dari fakta bahwa “Semua binatang adalah makhluk hidup” dan bahwa “Kucing adalah makhluk hidup”.
Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak – conditio sine qua non dalam ilmu pengetahuan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara apriori sebuah argumen memiliki empat kemungkinan yakni:
(1)     Sahih dari segi bentuk tetapi tidak benar dari segi isi:
Misalnya:
“Manusia adalah binatang berkaki empat.
Alibaba adalah manusia.
Jadi, Alibaba adalah binatang berkaki empat”.
(2)     Tidak sahih dari segi bentuk, tetapi benar dari segi isi:
Misalnya:
“Semua ayam mempunyai kaki.
Dadang bukanlah ayam.
Jadi, Dadang mempunyai kaki “.
(3)     Sahih dari segi bentuk dan benar dari segi isi:
Misalnya:
“Kota yang terletak di sebelah utara Roma lebih sejuk dari pada Roma.
London adalah kota yang terletak di sebelah utara Roma.
Jadi, London lebih sejuk daripada Roma”.
(4)     Tidak sahih dari segi bentuk dna tidak benar dari segi isi;
Misalnya:
“Semua yang lebih ringan daripada batu mengambang dalam air.
Air lebih ringan daripada batu.
Jadi, betul mengambang dalam air.”
Induksi dan Deduksi
Bernalar adalah suatu proses berpkir yang menyangkut cara mengambil/menarik suatu kesimpulan sebagai suatu pengetahuan menurut suatu alur atau kerangka berpikir tertentu.
Ada dua macam penalaran ilmiah. Pertama, penalaran induktif. Kedua, penalaran deduktif. Dua macam penalaran tersebut menunjuk pada dua cara menarik kesimpulan.
Penalaran induktif adalah proses penarikan kesimpulan yang umum (berlaku untuk semua/banyak) atas dasar pengetahuan tentang kasus-kasus individual (khusus). Penalaran induktif berkaitan erat dengan pengamatan inderawi (observasi) atas kasus-kasus sejenis lalu disusunlah pernyataan-pernyataan yang sejenis pula sebagai dasar untuk menarik kesimpulan yang berlaku umum. Misalnya observasi terhadap 10 batang logam yang dipanasi berturut-turut dengan hasil “sama” yakni memuai. Pengamatan itu secara formal dapat disusun sebagai suatu bentuk penalaran formal sebagai berikut:
“Logam 1 dipanasi dan memuai.
Logam 2 dipanasi dan memuai.
Logam 3 …
Logam 10 dipanasi dan memuai.
Jadi, semua logam dipanasi dan memuai.”
Skema            Induksi            pengetahuan yang lebih umum 
Kenyataan
Pengetahuan yang lebih konkrit dan khusus

Dari contoh di atas terlihat bahwa kesimpulan dalam penalaran induktif merupakan generalisasi sehingga kesimpulan itu pasti lebih luas dari premis atau titik pangkal pemikiran. Dengan demikian selalu ada bahaya bahwa orang menarik kesimpulan umum dari alasan yang tidak mencukupi, atau menganggap sudah pasti sesuatu yang belum pasti. Generalisasi tergesa-gesa dapat menjerumuskan kita sehingga kita menarik kesimpulan umum tentang sesuatu yang sebenarnya tidak berlaku umum. Untuk itu perlu dipelajari secara ilmiah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dari jumlah kejadian yang kecil atau sedikit – sebagai sample kita dapat menarik kesimpulan yang berlaku umum tanpa melanggar kebenaran.
Penalaran induktif bertitik tolak dari kasus-kasus individual dan menarik kesimpulan umum. Kesimpulan dalam penalaran induktif tersebut merupakan sintesis atau penggabungan dari apa yang disebut sebagai titik pangkal pemikiran/premis, maka penalaran induktif disebut juga penalaran sintesis. Karena itu pula penalaran induktuf tidak bersifat sahih atau tidak sahih melainkan apakah kesimpulan dari suatu penalaran induktif lebih probabel dibandingkan dengan yang lain. Kalau begitu benarnya kesimpulan dalam penalaran induktif bergantung pada sample yang dijadikan alasan. Kalau alasan (premis) mencukupi maka kesimpulan benar (bukan pasti benar); sedangkan jika alasan (premis) tidak mencukupi maka kesimpulannya mungkin benar.
Dalam penalaran deduktif, penarikan kesimpulan bertitik tolak dari penyataan-pernyataan yang bersifat umum, kita menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif memakai pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga penyataan. Dalam silogisme itu, dari dua penyataan yang sudah diketahui (premis), kita turunkan pernyataan yang ketiga (kesimpulan).
Misalnya:
“Semua manusia akan mati.
Socrates adalah malaikat.
Jadi, Socrates akan mati.”
Pengetahuan yang telah umum

Deduksi

Kenyataan
Pengetahuan yang konkrit/khusus

Kunci untuk mengerti argumen di atas adalah istilah “manusia” pada pernyataan pertama dan pernyataan kedua. Artinya kalau diketahu bahwa “semua manusia akan mati” dan “Socrates adalah manusia” maka konsekuensi logisnya adalah “Socrates akan mati”. Kesimpulan bahwa “Socrates akan mati” merupakan hasil analisa dari dua pernyataan alasan (“ semua manusia akan mati”). Maka kesimpulan dalam penalaran deduktif bersifat analistis – tautologis sebab kesimpulan itu sudah termuat dalam titik pangkal pemikiran. Di sinilah penalaran deduktif bersifat sahih (kalau kesimpulannya diturunkan secara logis dari premis) atau tidak sahih (kalau kesimpulannya tidak diturunkan secara logis dari premis). Kesimpulan penalaran deduktif pasti 100% kalau argumentasi benar dari segi logika formal.
Misalnya:
“1 + 1”. ‘1 + 1” adalah premis (titik pangkal, alasan, atau data yang diketahui). “2” adalah kesimpulan yang pasti 100% sebab diturunkan secar alogis dari “1+1”. Kesimpulan itu (“2”) secara implisit sudah ada pada premis maka kesimpulan (“2”) tidak lebih luas dari premis itu. Kesimpulan “2” itu adalah hasil analisis atas premis “1+1”.
Manakah unsur-unsur penalaran deduktif?
Unsur-unsur penalaran deduktif dapat dikategorikan berdasarkan dua aspek. Pertama, aspek kegiatan mental. Kedua, aspek ekspresi verbal.
Unsur-unsur penalaran deduktif yang merupakan aktivitas akal budi meliputi pengertian/konsep, putusan, dan penyimpulan. Ketiga unsur tersebut terungkap secara verbal dalam bentuk kata/kelompok kata (term), pernyataan/kalimat berita (proporsial), dan rangkaian logis tiga pernyataan (silogisme).
Tabel
InduksiDeduksi
Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan tentang beberapa kejadian/peristiwa/hal yang lebih konkret atau “khusus” lalu menyimpulkan hal yang lebih “umum”.Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan yang lebih “umum” untuk menyimpulkan hal yang lebih “khusus”.
Kesimpulan dalam penalaran induktif bersifat generalisasi, sintesis karena itu tidak menjamin kepastian mutlak.Kesimpulan dalam penalaran deduktif bersifat analitis karena itu pasti seratus persen kalau argumentasinya sahih dari sudut logika formal.
Penalaran induktif tidak bersifat sahih/tidak sahih melainkan apakah satu penalaran induktif lebih probabel (tergantung sampel yang dijadikan alasan penyimpulan) dari yang lain. Tinggi rendahnya kadar kebolehjadian dalam kesimpulan bergantung pada alasan. Kalau alasan cukup, kesimpulan benar, kalau alasan tidak cukup kesimpulan mungkin benar.Penalaran deduktif bersifat sahih kalau kesimpulan relevan pada alasan/premis atau tidak sahih kalau kesimpulan tidak relevan pada proses.
Penalarn induktif tidak bisa siap dipakai untuk membenarkan induksi.Penalaran deduktif adalah dasar untuk membangun dan menilai prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.

Sumber: http://kuliahfilsafat.com/2009/11/22/pengertian-sejarah-dan-macam-macam-logika/

BERPIKIR KRITIS

Pengertian Berfikir Kritis


Proses belajar diperlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Dalam proses belajar terdapat pengaruh perkembangan mental yang digunakan dalam berpikir atau perkembangan kognitif dan konsep yang digunakan dalam belajar. Beberapa pengertian mengenai keterampilan berpikir kritis diantaranya:

1. Menurut Beyer (Filsaime, 2008: 56) berpikir kritis adalah sebuah cara
 berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi
validitas sesuatu (pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan
 penelitian)

2. Menurut Screven dan Paul serta Angelo (Filsaime, 2008: 56)
memandang berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari
konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan
 berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi,
 pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah
 penuntun menuju kepercayaan dan aksi.

3. Rudinow dan Barry (Filsaime, 2008: 57) berpendapat bahwa berpikir
kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis
kepercayaan-kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan
serangkaian standar dan prosedur untuk menganalisis, menguji dan
mengevaluasi.

4. Menurut Halpern (Rudd et al, 2003 : 128) mendefinisikan critical
thingking as „...the use of cognitive skills or strategies that increase the
 probability of desirable outcome.

5. Sedangkan menurut Ennis (1996). “Berpikir kritis adalah sebuah proses
yang dalam mengungkapakan tujuan yang dilengkapi alasan yang tegas
tentang suatu kepercayaan dan kegiatan yang telah dilakukan."

Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi. Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi
untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang elevan untuk dirinya.

Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapatdigunakan untuk menunjukkan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melkukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian keterampilan berpikir kritis di atas maka dapat dikatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan.


Ciri-Ciri Berfikir Kritis

1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan
    terhadap kondisi yang ada.

2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi,
    dan konsekuensi yang logis.

3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks.
    Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin,
    terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini
    tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode
    penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris kita.          

Saat kita mulai untuk berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu:

     a. Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang
         tepat untuk jawaban dari pertanyaan tersebut.
     b. Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa.
     c. Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas.
     d. Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas
         pertanyaan.
     e. Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan.
     f. Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
     g. Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil
         yang maksimal.


Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang
digunakan (logic), keluasan sudut pandang (breadth), kedalaman berpikir (depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication).

Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen- elemen penyusun kerangka berpikir suatu gagasan atau ide.  Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai berikut. 
Tujuan dari sebuah gagasan/ide:

1. Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide.
2. Sudut pandang dari gagasan/ide.
3. Informasi yang muncul dari gagasan/ide.
4. Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
5. Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut.
6. Implikasi dan konsekuensi.
7. Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut.


Karakteristik dan Indikator Berfikir Kritis

Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis,
yakni meliputi:

1. kegiatan merumuskan pertanyaan,
2. membatasi permasalahan,
3. menguji data-data,
4. menganalisis berbagai pendapat dan bias,
5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
6. menghindari penyederhanaan berlebihan,

7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
8. mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12-15) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:

a. Watak
    Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis
    mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah
    kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap
    kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
    berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang
    dianggapnya baik.

b. Kriteria
    Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau
    patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu
    untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat
    disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai
    kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka
    haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta,
    berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika
    yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

c. Argumen
   Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
   data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan
   pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

d. Pertimbangan atau pemikiran
    Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau
    beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan
    antara beberapa pernyataan atau data.

e. Sudut pandang (point of view)
    Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini,
    yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir
    dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut
    pandang yang berbeda.

f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
   Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural.
   Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan,
   menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi
   perkiraan-perkiraan.

Pada dasarnya keterampilan berpikir kritis (abilities) Ennis (Costa, 1985 : 54) dikembangkan menjadi indikator-indikator keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari lima kelompok besar yaitu:

1. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification).
2. Membangun keterampilandasar (basic support).
3. Menyimpulkan (interference).
4. Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification).
5. Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics)

Tahapan Berfikir Kritis

1. Keterampilan Menganalisis

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam       komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan
tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam         proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44).

Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya.

2. Keterampilan Mensintesis

Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya.
Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987: 44).

3. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep - konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15).

4. Keterampilan Menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu
menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu :

deduksi dan induksi.
Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.

5. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987: 44). Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.

Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”.

Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus selalu mengacu dan berdasar kepada standar tersebut (Eider dan Paul, 2001: 1). Berikut ini akan dijelaskan aspek-aspek tersebut.

a. Clarity (Kejelasan)

    Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: “Dapatkah permasalahan
    yang rumit dirinci sampai tuntas?  ”; “Dapatkah dijelaskan permasalahan
    itu dengan cara yang lain?”; “Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!”.

Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Jika pernyataan tidak jelas, kita tidak dapat         membedakan apakah sesuatu itu akurat atau relevan. Apabila terdapat pernyataan yang demikian,    maka kita tidak akan dapat berbicara apapun, sebab kita tidak memahami pernyataan tersebut.
Contoh, pertanyaan berikut tidak jelas: “Apa yang harus dikerjakan pendidik dalam sistem pendidikan di Indonesia?” Agar pertanyaan itu menjadi jelas, maka kita harus memahami betul apa yang dipikirkan dalam masalah itu. Agar menjadi jelas, pertanyaan itu harus diubah menjadi, “Apa yang harus dikerjakan oleh pendidik untuk memastikan bahwa siswanya benar-benar telah mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan untuk membantu berbagai hal agar mereka berhasil dalam pekerjaannya dan mampu membuat keputusan dalam kehidupan
sehari-hari?”.

b. Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan)

    Ketelitian atau kesaksamaan sebuah pernyataan dapat ditelusuri
    melalui pertanyaan: “Apakah pernyataan itu kebenarannya dapat
    dipertanggungjawabkan?”; “Bagaimana cara mengecek
    kebenarannya?”; “Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?”
    Pernyataan dapat saja jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan
    berikut, “Pada umumnya anjing berbobot lebih dari 300 pon”.

c. Precision (ketepatan)

    Ketepatan mengacu kepada perincian data-data pendukung yang
    sangat mendetail. Pertanyaan ini dapat dijadikan panduan untuk
    mengecek ketepatan sebuah pernyataan. “Apakah pernyataan yang
    diungkapkan sudah sangat terurai?”; “Apakah pernyataan itu telah
    cukup spesifik?”. Sebuah pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan
    dan ketelitian, tetapi tidak tepat, misalnya “Aming sangat berat” (kita
    tidak mengetahui berapa berat Aming, apakah satu pon atau 500 pon!)

d. Relevance (relevansi, keterkaitan)

    Relevansi bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang
    dikemukakan berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan.

Penelusuran keterkaitan dapat diungkap dengan mengajukan pertanyaan berikut: “Bagaimana        menghubungkan pernyataan atau respon dengan pertanyaan?”; “Bagaimana hal yang diungkapkan itu menunjang permasalahan?”. Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat, tetapi tidak relevan dengan permasalahan. Contohnya: siswa sering berpikir, usaha apa yang harus dilakukan dalam belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Bagaimana pun usaha tidak dapat mengukur kualitas
belajar siswa dan kapan hal tersebut terjadi, usaha tidak relevan dengan ketepatan mereka dalam meningkatkan kemampuannya.

e. Depth (kedalaman)

    Makna kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan
    tertuju kepada pertanyaan dengan kompleks, Apakah permasalahan
    dalam pertanyaan diuraikan sedemikian rupa? Apakah telah
    dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan terhadap pemecahan
    masalah? Sebuah pernyatan dapat saja memenuhi persyaratan kejelasan,
    ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat dangkal
    (kebalikan dari dalam). Misalnya terdapat ungkapan, “Katakan tidak”.

Ungkapan tersebut biasa digunakan para remaja dalam rangka penolakan terhadap obat-obatan terlarang (narkoba). Pernyataan tersebut cukup jelas, akurat, tepat, relevan, tetapi sangat dangkal, sebab ungkapan tersebut dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam.

f. Breadth (keluasaan)

   Keluasan sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan
   berikut ini. Apakah pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut
   pandang?; Apakah memerlukan tinjauan atau teori lain dalam merespon
   pernyataan yang dirumuskan?; Menurut pandangan..; Seperti apakah
   pernyataan tersebut menurut… 

Pernyataan yang diungkapkan dapat memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi,
kedalaman, tetapi tidak cukup luas. Seperti halnya kita mengajukan sebuah pendapat atau argumen menurut pandangan seseorang tetapi hanya menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang diajukan.

g. Logic (logika)

    Logika bertemali dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah
    disusun dengan konsep yang benar?; Apakah pernyataan yang
    diungkapkan mempunyai tindak lanjutnya? Bagaimana tindak
    lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan sesudahnya, bagaimana
    kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita akan dibawa
    kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita
    berpikir dengan berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang
    dan mendukung perumusan pernyataan dengan benar, maka kita
    berpikir logis. Ketika berpikir dengan berbagai kombinasi dan satu
    sama lain tidak saling mendukung atau bertolak belakang, maka hal
    tersebut tidak logis.

Keterampilan Berfikir Kritis

  • Interpretasi – kategorisasi, dekode, mengklarifikasi makna 
  • Analisis – memeriksa gagasan, mengidentifikasi argumen, menganalisis argumen
  • Evaluasi – menilai klaim (pernyataan), menilai argumen
  • Inferensi – mempertanyakan klaim, memikirkan alternatif (misalnya,differential diagnosis), menarik kesimpulan, memecahkan masalah,mengambil keputusan
  • Penjelasan – menyatakan masalah, menyatakan hasil, mengemukakan kebenaran prosedur, mengemukakan argumen
  • Regulasi diri – meneliti diri, mengoreksi diri
  • Memahami hubungan-hubungan logis antar gagasan
  • Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argumen
  • Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan
  • Memecahkan masalah secara sistematis.
  • Mengidentifikasi relevansi dan kepentingan gagasan
  • Merefleksikan kebenaran keyakinan dan nilai-nilai diri sendiri
Sumber: http://www.academia.edu/6698550/MAKALAH_BERFIKIR_KRITIS

"Abuella", Kisah Pembelajaran dan Penghormatan Sandrina kepada Orangtua

JAKARTA, KOMPAS.com - Minggu, 28 September 2014

Figur publik cantik ini rupanya semakin sibuk. Setelah tak lagi menjadi presenter berita, Sandrina Malakiano, fokus mengelola "Abuella", sebuah kafe di bilangan selatan Jakarta.

""Abuella" adalah panggilan sayang saya kepada mendiang ibu. "Abuella" dengan satu "L" artinya nenek, dalam bahasa Spanyol. Ini merupakan bentuk penghormatan saya kepada ibu, meneruskan bisnis kuliner dan memang passion saya ada di situ," kisah Sandrina kepada Kompas.com, Sabtu (27/9/2014). 

"Abuella", kata Sandrina, bukan kedai kopi biasa. Tapi, kafe yang menyajikan kopi Indonesia kualitas premium, baik single origin maupun olahannya seperti frappe. 

"Selain itu, keistimewaan kafe ini tak melulu menyajikan kopi, melainkan resto yang komplit. Kami menyajikan makanan dengan varian yang lumayan banyak. Sebut saja sup dan salad untuk appetizer, hidangan utama spaghettifetucini atau varian masakan Italia lainnya, masakan Jepang macam teriyaki, serta makanan Indonesia," papar Sandrina yang didampingi sang suami, Eep Saefulloh Fattah.

Dia menambahkan, semua hidangan tersebut diolah menurut resep keluarga. Orangtua Sandrina merupakan pemilik restoran Italia pertama di Bali, yakni "Trattoria da Marco" yang tutup pada 1997 karena krisis.

""Abuella" merupakan proses pembelajaran kami bagaimana memulai dan mengelola bisnis, terjun langsung melayani. Ini adalah proses bagaimana bisnis dijalankan dengan jujur, karena kami ingin berkah. Dalam satu bulan operasionalnya, alhamdulillah, "Abuella" sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, tanpa suntikan subsidi lagi," timpal Eep.

Homey interior
Totalitas Sandrina menekuni bisnis barunya ini terdeskripsi pada penataan interior "Abuella". Konsep homey dan warm, menjadi benang merah yang akan ditemukan pada furnitur, elemen dekoratif, serta layanan para kru kafe.

"Itu semua kami lakukan, karena sasaran pasar kami bukan semata pekerja kantoran, melainkan juga keluarga, komunitas, masyarakat sekitar dan bahkan kami mendatangkan anak-anak yatim sebulan sekali untuk dapat menikmati hidangan di sini. Kami tak sekadar berbisnis, tapi ingin berbagi keberkahan," tandas Sandrina.

Pemilihan warna yang cenderung dark pada material lantai, dinding serta ceiling bukan tanpa alasan. Nuansa syahdu dengan aroma lembut menjadi kekuatan yang ingin ditonjolkan pada kafe seluas 250 meter persegi berkapasitas 115 tempat duduk ini.

Fitur lain yang disediakan Sandrina untuk menarik minat pengunjung adalah panggung bagi pertunjukan musik home band, dan layar besar dengan LCD projector untuk nonton bareng.

Walhasil, "Abuella" menjadi semacam destinasi wajib kalangan menengah untuk bersosialisasi atau sekadar menunaikan janji...