Sunday, October 26, 2014

BERPIKIR KRITIS

Pengertian Berfikir Kritis


Proses belajar diperlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Dalam proses belajar terdapat pengaruh perkembangan mental yang digunakan dalam berpikir atau perkembangan kognitif dan konsep yang digunakan dalam belajar. Beberapa pengertian mengenai keterampilan berpikir kritis diantaranya:

1. Menurut Beyer (Filsaime, 2008: 56) berpikir kritis adalah sebuah cara
 berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi
validitas sesuatu (pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan
 penelitian)

2. Menurut Screven dan Paul serta Angelo (Filsaime, 2008: 56)
memandang berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari
konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan
 berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi,
 pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah
 penuntun menuju kepercayaan dan aksi.

3. Rudinow dan Barry (Filsaime, 2008: 57) berpendapat bahwa berpikir
kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis
kepercayaan-kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan
serangkaian standar dan prosedur untuk menganalisis, menguji dan
mengevaluasi.

4. Menurut Halpern (Rudd et al, 2003 : 128) mendefinisikan critical
thingking as „...the use of cognitive skills or strategies that increase the
 probability of desirable outcome.

5. Sedangkan menurut Ennis (1996). “Berpikir kritis adalah sebuah proses
yang dalam mengungkapakan tujuan yang dilengkapi alasan yang tegas
tentang suatu kepercayaan dan kegiatan yang telah dilakukan."

Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi. Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi
untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang elevan untuk dirinya.

Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapatdigunakan untuk menunjukkan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melkukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian keterampilan berpikir kritis di atas maka dapat dikatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan.


Ciri-Ciri Berfikir Kritis

1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan
    terhadap kondisi yang ada.

2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi,
    dan konsekuensi yang logis.

3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks.
    Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin,
    terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini
    tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode
    penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris kita.          

Saat kita mulai untuk berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu:

     a. Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang
         tepat untuk jawaban dari pertanyaan tersebut.
     b. Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa.
     c. Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas.
     d. Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas
         pertanyaan.
     e. Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan.
     f. Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
     g. Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil
         yang maksimal.


Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang
digunakan (logic), keluasan sudut pandang (breadth), kedalaman berpikir (depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication).

Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen- elemen penyusun kerangka berpikir suatu gagasan atau ide.  Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai berikut. 
Tujuan dari sebuah gagasan/ide:

1. Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide.
2. Sudut pandang dari gagasan/ide.
3. Informasi yang muncul dari gagasan/ide.
4. Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
5. Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut.
6. Implikasi dan konsekuensi.
7. Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut.


Karakteristik dan Indikator Berfikir Kritis

Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis,
yakni meliputi:

1. kegiatan merumuskan pertanyaan,
2. membatasi permasalahan,
3. menguji data-data,
4. menganalisis berbagai pendapat dan bias,
5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
6. menghindari penyederhanaan berlebihan,

7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
8. mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12-15) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:

a. Watak
    Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis
    mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah
    kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap
    kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
    berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang
    dianggapnya baik.

b. Kriteria
    Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau
    patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu
    untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat
    disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai
    kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka
    haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta,
    berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika
    yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

c. Argumen
   Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
   data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan
   pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.

d. Pertimbangan atau pemikiran
    Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau
    beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan
    antara beberapa pernyataan atau data.

e. Sudut pandang (point of view)
    Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini,
    yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir
    dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut
    pandang yang berbeda.

f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
   Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural.
   Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan,
   menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi
   perkiraan-perkiraan.

Pada dasarnya keterampilan berpikir kritis (abilities) Ennis (Costa, 1985 : 54) dikembangkan menjadi indikator-indikator keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari lima kelompok besar yaitu:

1. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification).
2. Membangun keterampilandasar (basic support).
3. Menyimpulkan (interference).
4. Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification).
5. Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics)

Tahapan Berfikir Kritis

1. Keterampilan Menganalisis

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam       komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan
tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah-langkah logis yang digunakan dalam         proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44).

Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya.

2. Keterampilan Mensintesis

Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya.
Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987: 44).

3. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep - konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15).

4. Keterampilan Menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu
menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu :

deduksi dan induksi.
Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.

5. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987: 44). Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.

Pengukuran indikator-indikator yang dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul (2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”.

Universal inlellectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus selalu mengacu dan berdasar kepada standar tersebut (Eider dan Paul, 2001: 1). Berikut ini akan dijelaskan aspek-aspek tersebut.

a. Clarity (Kejelasan)

    Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: “Dapatkah permasalahan
    yang rumit dirinci sampai tuntas?  ”; “Dapatkah dijelaskan permasalahan
    itu dengan cara yang lain?”; “Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!”.

Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Jika pernyataan tidak jelas, kita tidak dapat         membedakan apakah sesuatu itu akurat atau relevan. Apabila terdapat pernyataan yang demikian,    maka kita tidak akan dapat berbicara apapun, sebab kita tidak memahami pernyataan tersebut.
Contoh, pertanyaan berikut tidak jelas: “Apa yang harus dikerjakan pendidik dalam sistem pendidikan di Indonesia?” Agar pertanyaan itu menjadi jelas, maka kita harus memahami betul apa yang dipikirkan dalam masalah itu. Agar menjadi jelas, pertanyaan itu harus diubah menjadi, “Apa yang harus dikerjakan oleh pendidik untuk memastikan bahwa siswanya benar-benar telah mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan untuk membantu berbagai hal agar mereka berhasil dalam pekerjaannya dan mampu membuat keputusan dalam kehidupan
sehari-hari?”.

b. Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan)

    Ketelitian atau kesaksamaan sebuah pernyataan dapat ditelusuri
    melalui pertanyaan: “Apakah pernyataan itu kebenarannya dapat
    dipertanggungjawabkan?”; “Bagaimana cara mengecek
    kebenarannya?”; “Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?”
    Pernyataan dapat saja jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan
    berikut, “Pada umumnya anjing berbobot lebih dari 300 pon”.

c. Precision (ketepatan)

    Ketepatan mengacu kepada perincian data-data pendukung yang
    sangat mendetail. Pertanyaan ini dapat dijadikan panduan untuk
    mengecek ketepatan sebuah pernyataan. “Apakah pernyataan yang
    diungkapkan sudah sangat terurai?”; “Apakah pernyataan itu telah
    cukup spesifik?”. Sebuah pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan
    dan ketelitian, tetapi tidak tepat, misalnya “Aming sangat berat” (kita
    tidak mengetahui berapa berat Aming, apakah satu pon atau 500 pon!)

d. Relevance (relevansi, keterkaitan)

    Relevansi bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang
    dikemukakan berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan.

Penelusuran keterkaitan dapat diungkap dengan mengajukan pertanyaan berikut: “Bagaimana        menghubungkan pernyataan atau respon dengan pertanyaan?”; “Bagaimana hal yang diungkapkan itu menunjang permasalahan?”. Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat, tetapi tidak relevan dengan permasalahan. Contohnya: siswa sering berpikir, usaha apa yang harus dilakukan dalam belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Bagaimana pun usaha tidak dapat mengukur kualitas
belajar siswa dan kapan hal tersebut terjadi, usaha tidak relevan dengan ketepatan mereka dalam meningkatkan kemampuannya.

e. Depth (kedalaman)

    Makna kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan
    tertuju kepada pertanyaan dengan kompleks, Apakah permasalahan
    dalam pertanyaan diuraikan sedemikian rupa? Apakah telah
    dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan terhadap pemecahan
    masalah? Sebuah pernyatan dapat saja memenuhi persyaratan kejelasan,
    ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat dangkal
    (kebalikan dari dalam). Misalnya terdapat ungkapan, “Katakan tidak”.

Ungkapan tersebut biasa digunakan para remaja dalam rangka penolakan terhadap obat-obatan terlarang (narkoba). Pernyataan tersebut cukup jelas, akurat, tepat, relevan, tetapi sangat dangkal, sebab ungkapan tersebut dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam.

f. Breadth (keluasaan)

   Keluasan sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan
   berikut ini. Apakah pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut
   pandang?; Apakah memerlukan tinjauan atau teori lain dalam merespon
   pernyataan yang dirumuskan?; Menurut pandangan..; Seperti apakah
   pernyataan tersebut menurut… 

Pernyataan yang diungkapkan dapat memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi,
kedalaman, tetapi tidak cukup luas. Seperti halnya kita mengajukan sebuah pendapat atau argumen menurut pandangan seseorang tetapi hanya menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang diajukan.

g. Logic (logika)

    Logika bertemali dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah
    disusun dengan konsep yang benar?; Apakah pernyataan yang
    diungkapkan mempunyai tindak lanjutnya? Bagaimana tindak
    lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan sesudahnya, bagaimana
    kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita akan dibawa
    kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita
    berpikir dengan berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang
    dan mendukung perumusan pernyataan dengan benar, maka kita
    berpikir logis. Ketika berpikir dengan berbagai kombinasi dan satu
    sama lain tidak saling mendukung atau bertolak belakang, maka hal
    tersebut tidak logis.

Keterampilan Berfikir Kritis

  • Interpretasi – kategorisasi, dekode, mengklarifikasi makna 
  • Analisis – memeriksa gagasan, mengidentifikasi argumen, menganalisis argumen
  • Evaluasi – menilai klaim (pernyataan), menilai argumen
  • Inferensi – mempertanyakan klaim, memikirkan alternatif (misalnya,differential diagnosis), menarik kesimpulan, memecahkan masalah,mengambil keputusan
  • Penjelasan – menyatakan masalah, menyatakan hasil, mengemukakan kebenaran prosedur, mengemukakan argumen
  • Regulasi diri – meneliti diri, mengoreksi diri
  • Memahami hubungan-hubungan logis antar gagasan
  • Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argumen
  • Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan
  • Memecahkan masalah secara sistematis.
  • Mengidentifikasi relevansi dan kepentingan gagasan
  • Merefleksikan kebenaran keyakinan dan nilai-nilai diri sendiri
Sumber: http://www.academia.edu/6698550/MAKALAH_BERFIKIR_KRITIS

No comments:

Post a Comment